Selasa, 24 Juli 2018

Kisah Perjuangan KH Saifuddin Amsir


Gambar terkait


Kita sungguh telah kehilangan sosok ulama Betawi terkemuka dengan semua kiprah dan karyanya yang sangat membekas dan bermanfaat bagi umat Islam. Semasa masa hidup, saya ditugaskan untuk menulis biografi beliau. Walau penulisan biografi tersebut belum selesai, paling tidak tulisan ini, yang saya sebut sebagai manaqib, bisa memberikan gambaran singkat tentang sosok beliau yang  sarat dengan keteladanan dan dapat menjadi inspirasi bagi umat Islam hari ini dan yang akan datang.   

Kelahiran dan Pendidikan Mengaji Masa Kecil
31 Januari 1955 adalah tanggal yang bersejarah yang patut disyukuri bagi Amsir, orang Betawi, anak seorang polisi dari Kebon Manggis, Matraman, Jakarta Timur. Istrinya, Nurain binti Anwar, melahirkan anak kelima yang kemudian diberi nama Saifuddin Amsir dalam kondisi sehat wal afiat dengan segenap harapan yang tertumpah bagi si jabang bayi. (Wawancara di rumah pribadi, Selasa, 12 Maret 2008).   
Berharap anaknya mempunyai pengetahuan dan pemahaman ilmu agama yang mendalam, Saifuddin kecil mulai diajar mengaji cara kampung dengan Kong Perin yang kemudian dilanjutkan oleh putranya, Ust. Haji Sayuti, yang juga sepupu dari ibunya. Di rumah, ia juga diajarkan mengaji oleh ayahnya sendiri. Setelah itu ia belajar kepada Ust. Yusuf Amin.
Pelajaran mengajinya, khususnya al-Qur`an, kemudian berlanjut ketika ia duduk di bangku Sekolah Dasar. Baginya, masa-masa di Sekolah Dasar merupakan hal yang paling mengesankan dalam belajar al-Qur`an karena paling banyak memberikan pengaruh terhadap kemampuan membaca al-Qur`annya dibawah bimbingan Ustadz Malik.

Masa Kecil dan Kesenangan Membaca
Yang istimewa dari Saifuddin kecil adalah kemampuannya dalam membaca huruf latin sebelum masuk Sekolah Dasar. Guru membacanya adalah ayahnya sendiri yang hampir setiap malam dengan tekun mengajarinya. Sebagaimana kesukaan anak-anak lain yang sudah pandai membaca, ketika kecil ia juga sangat senang membaca komik dan majalah anak-anak yang beredar saat itu.
Kesenangannya membaca didukung oleh kondisi keluarga dan lingkungan sekitarnya. Ayahnya senang membaca buku, majalah dan bacaan-bacaan lain. Orang-orang di lingkungan tempat tinggalnya juga tidak asing dengan buku, terutama buku-buku terbitan Balai Pustaka. Hal ini tidak terlepas dari peran, Riyadi seorang pemuda di kampungnya yang pernah belajar di Rusia dan kemudian menjadi seorang insinyur. Pemuda ini adalah motor penggerak di kampungnya. Mulai dari anak-anak kecil sampai para pemudanya didik oleh Riyadi yang kelak rata-rata menjadi sarjana yang mumpuni. Untuk lebih menggairahkan anak-anak agar rajin membaca, Riyadi mendirikan perpustakaan di kampungnya dan juga studi klub yang bermarkas di rumahnya.
Dengan kondisi keluarga dan lingkungan sekitarnya, tidak heran apabila pada kelas 2 Sekolah Dasar Saifuddin kecil telah membaca Si Jamin dan Si Johan, sebuah roman karya saduran dari Merari Siregar. Selain itu, ia juga membaca komik-komik  karangan Kho Ping Ho dan komik-komik karya SH. Mintarja selain buku-buku karangan Dr. Karl May yang dibaca habis. Bukan saja komik yang dibacanya, tetapi juga buku-buku yang terbilang serius untuk anak seusianya pun telah dikonsumsinya, seperti Riwayat Hidup Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar.

Masa Sekolah di Asy-Syafi`iyyah
Masa pendidikan Sekolah Dasar dilaluinya dengan mulus. Kemudian, Saifuddin kecil yang meranjak remaja melanjutkan pendidikannya di Tsanawiyah Asy-Syafi`iyyah, Bali Matraman, Tebet, Jakarta Selatan. Pada masa itu, merupakan suatu prestasi besar bisa masuk Tsanawiyah asy-Syafi`iyyah karena standarnya yang cukup tingi sehingga sulit untuk bisa diterima. Bahkan tidak jarang ada siswa yang berasal dari tsanawiyah lain ketika pindah ke Tsanawiyah Asy-Syafi`iyyah harus turun kembali ke ibtidaiyyah. Modal utama yang dimiliki beliau ketika itu adalah hafalan Kitab Al-Jurumiyyah, Kitab Matan Bina` wal Asas, dan  Rub`ul `Ibadat dari Kitab Matan Al-Ghayah wat Taqrib.
Setelah masuk di Tsanawiyyah Asy-Syafi`iyyah ini, banyak guru yang kagum dengan kemampuannya dalam membaca dan memahami kitab-kitab sehingga ia pun mendapat prestasi dengan langsung naik kelas dua tingkat, dari kelas satu langsung naik ke kelas tiga, tidak melalui kelas dua dahulu. Ia juga sering menjadi ”penyelamat”  bagi seisi kelas, yaitu menyelematkan teman-temannya dari kemarahan KH. Abdullah Syafi`i yang sering sekali marah besar jika murid-muridnya tidak mampu membaca kitab dengan benar. Marahnya akan mereda apabila ada murid lain yang dapat menetralisir dengan membacanya dengan benar.
Selepas tsanawiyah, Saifuddin remaja melanjutkan ke aliyah di perguruan yang sama, Asy-Syafi`iyyah. Ada peristiwa yang jarang terjadi ketika di aliyah ini yang menunjukan kapasitas keilmuan Saifuddin remaja ketika itu: Seorang guru memintanya membawa pulang kitab Kifayatul Akhyar milik guru tersebut. Maksudnya, agar ia membacanya di rumah dan ketika pelajarannya nanti ia yang membacanya sedangkan si guru hanya mendengarkannya. Bukan hanya kitab Kifayatul Akhyar, tetapi juga kitab-kitab lainnya, seperti Kitab Syarah Alfiyah Ibnu Aqil. Ia sangat bersyukur dapat sekolah di Asy-Syafi`iyyah karena di tempat inilah pengetahuan dan kemampuan bahasa Arabnya bertambah dan menjadi matang. Hal ini berkat jasa guru-gurunya yang diantaranya berasal dari Pesantren Gontor dan dari Mesir.


Mengaji Kitab-Kitab Lanjutan Kepada Guru-Guru Besar
Pada akhir tahun 1976, KH. Abdullah Syafi`i menyelenggarakan pengajian yang ditujukan kepada para ulama dan asatidzah. Guru yang diminta untuk mengajar mereka adalah Prof. Ibrahim Hosen dan mualim KH. M. Syafi`i Hadzami. Kitab yang dibaca oleh mualim KH. M. Syafi`i Hadzami adalah kitab Fathul Mu`in bab mu`ammalah dan Kitab Jauharul Maknun. 
Hasil gambar untuk kh saifuddin amsir
Pemuda Saifuddin yang baru lulus dari Aliyah Asy-Syafi`iyyah dan baru menjadi guru sehingga dipanggil ustadz juga diundang untuk mengikuti pengajian tersebut. Ini merupakan kali pertama bagi ustadz Saifuddin Amsir untuk mengikuti pengajian salah seorang guru utamanya ini.
Sayangnya, pengajian itu tidak berlangsung lama.
Selanjutnya, ustadz Saifuddin Amsir bergabung dengan pengajian mualim KH. Syafi`i Hadzami yang diadakan di daerah Rawa Bunga (dulu disebut Rawa Bangke), Jakarta Timur. Ia, ketika mengikuti pengajian di mualim dan di guru-guru lainnya, telah memiliki bekal yang sangat memadai dan mempunyai potensi yang sangat memungkinkan dirinya terlibat di dalam masalah-masalah yang dibicarakan. Ia juga sudah mampu mempertanyakan masalah-masalah yang urgen. Kitab yang dibaca pada pengajian mu`allim tersebut adalah Kitab Bughyatul Mustarsyidin. Ketika ia baru bergabung, bacaan kitab itu masih di bagian-bagian awal. Jadi, tidak terlalu banyak yang ketinggalan. Sedangkan kitab lain yang dibaca di tempat itu yang diikutinya sejak awal adalah kitab al-Hikam. Selain di Rawa Bunga, ia juga mengikuti pengajian mualim KH. M. Syafi`i Hadzami di daerah Kepu, Jakarta Pusat di sebuah masjid.
Ulama, Dosen, Enterpreneur, Penulis, dan Apa Saja
KH. Saifuddin Amsir merupakan sedikit dari ulama yan memiliki banyak profesi dan keahlian. Status keulamaannya semakit kuat setelah Mu`allim KH. M. Syafi`i Hadzami wafat, ia diminta oleh keluarga untuk menggantikan posisi almarhum untuk meneruskan pengajaran di majelis taklim-majelis taklim yang semasa hidup diisi oleh almarhum.
Tugas menggantikan ini bukan hal yang baru dia dapatkan. Waktu Mu`allim KH. M Syafi`i Hadzami masih hidup, dia juga menggantikan posisi mu`allim di beberapa majelis taklim, seperti majelis taklim Kitab Al-Hikam di masjid Al-Fudhola, Kampung Beting, Jakarta Utara.
Selain sebagai ulama,  ia juga adalah dosen, ia mengajar di IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta sebagai dosen filsafat sampai sekarang. Bukan hanya di IAIN saja, ia juga mengajar di beberapa kampus, seperti Universitas Paramadina.
Ia juga aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Dikarenakan kapasitasnya sebagai ulama, ia selalu menempati posisi di tingkat Syuriyah PBNU sebagai salah seorang rais dan terakhir sebagai Mustasyar PBNU.
Profesi lainnya yang dia emban adalah menjadi Pengawas Syari`ah di Bank Pemata. Selain itu, ia juga sosok enterpreneur mendirikan lembaga keuangan mikro syari`ah atau Baitul Maal wat-Tamwil (BMT) dan lembaga pendidikan Islam setara S2 dalam wadah yang bernama  Ma`had Aly Zawiyah Jakarta.
Ia juga seorang penulis. Bukunya yang sudah terbit diantaranya adalah Al-`Asyirah Al-Qur`aniyyah dan Al-Qur`an `Ijaazan wa Khawaashan wa Falsafatan. Ia juga kontributor dan pengasuh rubrik di Majalah Alkisah, ia juga menyukai seni musik. Jadi ia apa saja, itulah keistimewaan yang Allah SWT berikan kepadanya. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahnya. Aamiin.
Sumber : NU Online

Master Falak Jepara

Cara Shalat Gerhana Bulan


Gambar terkait

Gerhana bulan dalam bahasa Arab disebut “khusuf”. Saat terjadi fenomena gerhana bulan kita dianjurkan untuk mengerjakan shalat sunah dua rakaat atau shalat sunah khusuf. Shalat sunah ini terbilang sunah muakkad.
و) القسم الثاني من النفل ذي السبب المتقدم وهو ما تسن فيه الجماعة صلاة (الكسوفين) أي صلاة كسوف الشمس وصلاة خسوف القمر وهي سنة مؤكدة
Artinya, “Jenis kedua adalah shalat sunah karena suatu sebab terdahulu, yaitu shalat sunah yang dianjurkan untuk dikerjakan secara berjamaah yaitu shalat dua gerhana, shalat gerhana matahari dan shalat gerhana bulan. Ini adalah shalat sunah yang sangat dianjurkan,” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zein, Bandung, Al-Maarif, tanpa keterangan tahun, halaman 109).
Secara umum pelaksanaan shalat gerhana matahari dan shalat gerhana bulan diawali dengan shalat sunah dua rakaat dan setelah itu disusul dengan dua khutbah seperti shalat Idul Fitri atau shalat Idul Adha di masjid jami. Hanya saja bedanya, setiap rakaat shalat gerhana bulan dilakukan dua kali rukuk. Sedangkan dua khutbah setelah shalat gerhana matahari atau bulan tidak dianjurkan takbir sebagaimana khutbah dua shalat Id.
Jamaah shalat gerhana bulan adalah semua umat Islam secara umum sebagai jamaah shalat Id. Sedangkan imamnya dianjurkan adalah pemerintah atau naib dari pemerintah setempat.
Sebelum shalat ada baiknya imam atau jamaah melafalkan niat terlebih dahulu sebagai berikut:
أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامً/مَأمُومًا لله تَعَالَى
Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini imâman/makmûman lillâhi ta‘âlâ
Artinya, “Saya shalat sunah gerhana bulan dua rakaat sebagai imam/makmum karena Allah SWT.”
Adapun secara teknis, shalat sunah gerhana bulan adalah sebagai berikut:
1. Niat di dalam hati ketika takbiratul ihram.
2. Mengucap takbir ketika takbiratul ihram sambil niat di dalam hati.
3. Baca taawudz dan Surat Al-Fatihah. Setelah itu baca Surat Al-Baqarah atau selama surat itu dibaca dengan jahar (lantang).
4. Rukuk dengan membaca tasbih selama membaca 100 ayat Surat Al-Baqarah.
5. Itidal, bukan baca doa i’tidal, tetapi baca Surat Al-Fatihah. Setelah itu baca Surat Ali Imran atau selama surat itu.
6. Rukuk dengan membaca tasbih selama membaca 80 ayat Surat Al-Baqarah.
7. Itidal. Baca doa i’tidal.
8. Sujud dengan membaca tasbih selama rukuk pertama.
9. Duduk di antara dua sujud
10.Sujud kedua dengan membaca tasbih selama rukuk kedua.
11.Duduk istirahat atau duduk sejenak sebelum bangkit untuk mengerjakan rakaat kedua.
12.Bangkit dari duduk, lalu mengerjakan rakaat kedua dengan gerakan yang sama dengan rakaat pertama. Hanya saja bedanya, pada rakaat kedua pada diri pertama dianjurkan membaca surat An-Nisa. Sedangkan pada diri kedua dianjurkan membaca Surat Al-Maidah.
13.Salam.
14.Imam atau orang yang diberi wewnang menyampaikan dua khutbah shalat gerhana dengan taushiyah agar jamaah beristighfar, semakin takwa kepada Allah, tobat, sedekah, memerdedakan budak (pembelaan terhadap kelompok masyarakat marjinal), dan lain sebagainya.
Apakah boleh dibuat dalam versi ringkas? Dalam artian seseorang membaca Surat Al-Fatihah saja sebanyak empat kali pada dua rakaat tersebut tanpa surat panjang seperti yang dianjurkan? Atau bolehkah mengganti surat panjang itu dengan surat pendek setiap kali selesai membaca Surat Al-Fatihah? Boleh saja. Ini lebih ringkas seperti keterangan Syekh Ibnu Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam I’anatut Thalibin berikut ini.
ولو اقتصر على الفاتحة في كل قيام أجزأه، ولو اقتصر على سور قصار فلا بأس. ومقصود التطويل دوام الصلاة إلى الانجلاء
Artinya, “Kalau seseorang membatasi diri pada bacaan Surat Al-Fatihah saja, maka itu sudah memadai. Tetapi kalau seseorang membatasi diri pada bacaan surat-surat pendek setelah baca Surat Al-Fatihah, maka itu tidak masalah. Tujuan mencari bacaan panjang adalah mempertahankan shalat dalam kondisi gerhana hingga durasi gerhana bulan selesai,” (Lihat Syekh Ibnu Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I’anatut Thalibin, Beirut, Darul Fikr, 2005 M/1425-1426 H, juz I, halaman 303). Selagi gerhana bulan berlangsung, maka kesunahan shalat dua rakaat gerhana tetap berlaku. Sedangkan dua khutbah shalat gerhana bulan boleh tetap berlangsung atau boleh dimulai meski gerhana bulan sudah usai. Demikian tata cara shalat gerhana bulan berdasarkan keterangan para ulama.
Master Falak Jepara

Doa Setelah Akad Nikah Lengkap Bahasa Arab, Latin & Terjemahnya

Hasil gambar untuk ijab qabul
Kali ini akan dibahas teks bacaan doa setelah akad nikah lengkap bahasa arab, latin dan terjemahannya. Hendaknya doa akad nikah ini dibaca dan diamalkan tepat sesudah proses ijab qobul dilakukan. Doa yang pertama yaitu doa suami untuk istrinya dan doa umum yang biasanya dibaca oleh penghulu atau ulama yang hadir di acara pernikahan tersebut.
Agama islam adalah agama yang selalu mengajarkan setiap pemeluknya agar senantiasa memohon dan berdoa kepada Allah SWT. Hal ini juga berlaku saat berlangsungnya acara pernikahan. Setelah sah sebuah pasangan menjadi suami istri, maka hendaknya doa doa dipanjatkan untuk kebaikan mempelai berdua dan agar keluarga dan rumah tangga selalu bahagia sakinah mawadah dan warohmah. Dengan membaca doa setelah akad nikah, maka insyaallah keberkahan dan rahmat Allah SWT akan turun di majelis akad nikah dan pada pasangan suami istri berdua.
Doa Setelah Akad Nikah Lengkap Bahasa Arab, Latin dan Terjemahannya
Setelah proses akad nikah, Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar para suami mendoakan istrinya yang baru dinikahi. Caranya yaitu dengan memegang ubun ubunnya, kemudian membaca "basmalah" dan selanjutnya dilanjut dengan doa suami untuk istri berikut ini. Insyaallah keberkahan akan turun menyertainya.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ ، وَأَعُوْذَ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
Allahumma Inni As’aluka Min Khairiha Wa Khairi Ma Jabaltaha ‘Alaihi. Wa A’udzubika Min Syarriha Wa Syarri Ma Jabaltaha ‘Alaihi
    Artinya : “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepadaMu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya”.
Selain doa suami untuk istrinya seperti diatas, hendaknya juga berdoa dalam majelis akad nikah . Doa penghulu setelah akad nikah ini juga penting agar semua proses perkawinan/pernikahan yang berjalan penuh keberkahan dan mendapat rahmat dari Allah SWT. Karena acara kebaikan apapun hendaknya diawali dan diakhiri dengan berdoa kepada Allah SWT.
Pembacaan doa setelah akad nikah boleh dibaca siapa saja selain penghulu, biasanya para ulama dan orang alim/sholeh yang membaca doa akad nikah ini. Untuk doa akad nikah sendiri banyak sekali versinya. Hal ini karena memang dibolehkan berdoa dengan doa apa saja asalkan isinya baik dan ditujukan hanya kepada Allah SWT.
Dan dari kumpulan doa yang ada, di kesempatan ini akan kami share salah satu doa setelah akad nikah dari KH Maimun Zubair yang mungkin bisa menjadi salah satu pilihan doa untuk dibaca dalam acara akad nikah/ijab qobul pernikahan.
Dan langsung saja untuk selengkapnya simak dibawah ini teks bacaan doa setelah akad nikah lengkap dalam lafadz arab, tulisan latin dan terjemahan bahasa Indonesianya.

Doa Akad Nikah
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ . اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِى لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تَمْلاَءُ خَزَائِنَ اللهِ نُوْرًا وَتَكُوْنُ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ فَرَجًا وَفَرَحًا وَسُرُوْرًا وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا . اَللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا العَقْدَ عَقْدًا مُبَارَكًا عَقْدًا لَيْسَتْ عَاقِبَتُهُ فِرَاقًا وَلَا خُصُوْمًا عَقْدًا مُبَارَكًا لَهُمَا وَعَلَيْهِمَا فِى أُوْلَاهُمَا وَأُخْرَاهُمَا حَتَّى يَلْقَاكَ وَأَنْتَ رَاضٍ عَنْهُمَا يَارَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ وَسِّعْ لَهُمَا الأَرْزَاقَ وَحَسِّنْ لَهُمَا الأَخْلاَقَ وَأَعِذْهُمَا مِنَ الشِّرْكِ وَالشَّكِّ والنِّفَاقِ وَسُوْءِ الأَخْلاَقِ . اَللَّهُمَّ اجْعَلْ بَيْنَهُمَا يَاإِلَهَنَا الوِفَاقَ مَالَانِهَايَةَ وَلَاغَايَةَ وَجَنِّبْهُمَا عَنِ التَّخَاصُمِ وَالفِرَاقِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ . اَللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا النِّكَاحَ أَبَدِيًّا سَرْمَدِيًّا حَتَّى يَلْقَاكَ وَأَنْتَ رَاضٍ عَنْهُمَا يَارَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ اجْعَلْ مَعَاشَهُمَا مَعَاشًا طَيِّبًا وَحَيَاةً طَيِّبَةً رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً وَارْزُقْ لَهُمَا ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً تَكُوْنُ مَعْقِبَةً عَاقِبَةً حَسَنَةً تَكُوْنُ سَبَبًا لِقُرَّةِ أَعْيُنِهِمَا إِنَّكَ عَلَى مَا تَشَآءُ قَدِيْرٌ وَبِالْإِجَابَةِ جَدِيْرٌ . رَبَّنَآ آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ . وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Artinya :
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Pujian yang sebanding dengan nikmat-nikmat-Nya dan akan menjamin tambahan nikmat-Nya. Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala bentuk pujian, sebagaimana pujian yang layak kepada Dzat-Mu Yang Maha Agung, dan kepada kerajaan-Mu yang Maha Besar.
Ya Allah, berikanlah rahmat-Mu kepada junjungan kami Nabi Muhammad saw., dengan rahmat yang penuh cahaya sebagai simpanan di sisi Allah dan menjadi kemudahan, kebahagiaan dan kegembiraan bagi kami dan orang-orang mukmin dan (berikanlah rahmat-Mu) kepada keluarga dan para sahabatnya, serta selamatkanlah mereka dengan keselamatan yang sempurna.
Ya Allah, jadikanlah akad ini, akad yang penuh berkah, akad yang tidak ada setelahnya perpisahan (perceraian) maupun permusuhan, akad yang diberkahi bagi keduanya dan kepada keduanya dari awal sampai akhirnya hingga keduanya bertemu Engkau dan Engkau ridha kepada keduanya Wahai Tuhan Semesta Alam. Ya Allah, luaskanlah rezeki bagi keduanya dan baguskanlah akhlaq bagi keduanya serta lindungilah keduanya dari perbuatan syirik, ragu-ragu, nifaq dan akhlaq yang buruk.
Ya Allah, Ya Tuhan kami, jadikanlah diantara keduanya, keserasian yang tidak ada putus dan ujungnya dan jauhkanlah keduanya dari permusuhan dan perpisahan dengan rahmat-Mu, Wahai Dzat Yang Maha Penyayang orang-orang yang penyayang. Ya Allah, jadikanlah pernikahan ini, pernikahan yang abadi dan langgeng hingga bertemu Engkau dan Engkau ridha kepada keduanya, Wahai Tuhan Semesta Alam.
Ya Allah, jadikanlah mata pencaharian keduanya, mata pencaharian yang baik dan penghidupan yang baik, nikmat dan diridhai serta berikanlah rezeki bagi keduanya anak keturunan yang baik-baik dan membawa kebaikan serta menjadi penyenang hati bagi keduanya, Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu dan selalu segera dalam memenuhi permohonan.
Wahai Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari api neraka. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan dan panutan kami Nabi Muhammad saw. dan kepada keluarganya serta sahabat-sahabatnya.
Sekian mengenai teks bacaan doa setelah akad nikah lengkap bahasa arab, latin dan artinya. Doa diatas adalah salah satu doa yang bisa dibaca dan semoga dengan doa tersebut maka proses aka nikah dan ijaq qabul menjadi lebih berkah dan sempurna.
Master Falak Jepara.

Senin, 23 Juli 2018

Sejarah Pensyariatan Menghadap Kiblat



Gambar terkait

Ka’bah yang berada di dalam Masjidil Haram Makkah merupakan bangunan ibadah tertua di muka bumi ini. Bangunan yang berbentuk kubus ini diriwayatkan dibangun pertama kali oleh Nabi Adam AS. Karena kekunoannya, bangunan ini disebut juga sebagai bayt al-Athiq sebagaimana tertera dalam Surat Al-Hajj ayat 29:
وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ
“Dan thawaf (berkeliling) lah kalian di rumah yang kuno.”
Al-Qur’an menyebutkan bahwa Ka’bah telah ada pada saat Nabi Ibrahim menempatkan Siti Hajar dan Nabi Ismail ketika masih bayi di lokasi tersebut, sebagaimana tercermin dalam Surat Ibrahim ayat 37:
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."
Setelah meninggalkan istrinya, Siti Hajar, dan putranya, Nabi Ismail, Nabi Ibrahim kemudian datang lagi ke tempat tersebut karena mendapatkan wahyu untuk mendirikan bangunan Ka’bah. Bersama Nabi Ismail beliau kemudian mendirikan Ka’bah, sebagaimana diceritakan dalam Surat al-Baqarah ayat 127:
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".
Ketika perintah untuk shalat diberikan kepada Nabi Muhammad pasca peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad yang saat itu berada di Makkah tentu saja menghadap Ka’bah saat melaksanakan shalat. Hingga kemudian Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, maka turunlah perintah Allah agar menghadap ke Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa, Palestina) ketika shalat. Kejadian ini tergambar dalam karya Imam Abu al-Fida Ismail Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1419H), juz I, hal. 272:

كَانَ أَوَّلُ مَا نُسِخَ مِنَ الْقُرْآنِ الْقِبْلَةُ، وَذَلِكَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا هَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ، وَكَانَ أَهْلُهَا الْيَهُودَ، أَمَرَهُ اللَّهُ أَنْ يَسْتَقْبِلَ بَيْتَ الْمَقْدِسِ، فَفَرِحَتِ الْيَهُودُ، فَاسْتَقْبَلَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِضْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يحب قبلة إبراهيم، وكان يَدْعُو وَيَنْظُرُ إِلَى السَّمَاءِ
“Yang pertama kali di-naskh dalam Al-Qur’an ialah kiblat, bahwasanya Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah, sementara penduduk madinah mayoritas adalah Yahudi, Allah memerintahkan untuk menghadap Baitul Maqdis (ketika shalat), maka berbahagialah orang Yahudi. Rasulullah menghadap Baitul Maqdis (ketika shalat) selama lebih dari 10 bulan, padahal beliau lebih senang pada kiblatnya Nabi Ibrahim (Ka’bah), maka beliau seringkali berdoa dan menghadap ke langit”
Maka turunlah perintah yang ditunggu-tunggu oleh Rasulullah. Kejadian ini terjadi Pada bulan Rajab tahun kedua hijrah. Hal ini tercermin dalam Surat al-Baqarah ayat 144:

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ
“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, Palingkanlah mukamu ke arahnya.”
Peristiwa berpalingnya arah kiblat ini terjadi saat beliau sedang melaksanakan shalat berjamaah di sebuah masjid di pinggiran kota Madinah. Untuk mempertahankan bukti sejarah, hingga kini, masjid tersebut masih mempertahankan 2 mimbar, satu menghadap ke Ka’bah dan satu lagi menghadap ke Baitul Maqdis, dan disebut dengan Masjid Qiblatain (dua kiblat).
Perubahan kiblat ini memberikan suasana gembira di hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah Azza wa Jalla telah mengabulkan harapan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebaliknya, bagi kaum Yahudi, perubahan ini merupakan pukulan telak. Karena dugaan mereka selama ini, ternyata salah total dan terbantahkan. Oleh karena itu, mereka sangat geram dan melontarkan desas-desus yang tidak sedap dengan menyebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang plin-plan, seketika shalat menghadap kesini dan kesana.
Allah SWT lalu menurunkan ayat guna menghancurkan desas desus tersebut. Ketika kaum Yahudi menebarkan isu bahwa kebaikan hanya bisa diraih dengan cara shalat menghadap Baitul Maqdis, turunlah ayat 177 dalam Surat al-Baqarah:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta, (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila dia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
Rupanya, perubahan arah kiblat ini, selain sebagai jawaban atas doa Nabi Muhammad, juga merupakan sebentuk ujian yang Allah berikan untuk membedakan mana yang imannya asli atau palsu. Ini tergambar dalam Surat al-Baqarah ayat 143:
وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Dan Kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi beberapa orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”
Demikian, semoga bisa menjadi pengingat bagi kita semua. Wallahu a’lam bi shawab.

Kisah Perjuangan KH Saifuddin Amsir

Kita sungguh telah kehilangan sosok ulama Betawi terkemuka dengan semua kiprah dan karyanya yang sangat membekas dan bermanfaat b...