
Kita sungguh telah kehilangan sosok ulama Betawi terkemuka
dengan semua kiprah dan karyanya yang sangat membekas dan bermanfaat bagi umat
Islam. Semasa masa hidup, saya ditugaskan untuk menulis biografi beliau. Walau
penulisan biografi tersebut belum selesai, paling tidak tulisan ini, yang saya
sebut sebagai manaqib, bisa memberikan gambaran singkat tentang sosok beliau
yang sarat dengan keteladanan dan dapat
menjadi inspirasi bagi umat Islam hari ini dan yang akan datang.
Kelahiran dan Pendidikan Mengaji Masa Kecil
31 Januari 1955 adalah tanggal yang bersejarah yang patut
disyukuri bagi Amsir, orang Betawi, anak seorang polisi dari Kebon Manggis,
Matraman, Jakarta Timur. Istrinya, Nurain binti Anwar, melahirkan anak kelima
yang kemudian diberi nama Saifuddin Amsir dalam kondisi sehat wal afiat dengan
segenap harapan yang tertumpah bagi si jabang bayi. (Wawancara di rumah
pribadi, Selasa, 12 Maret 2008).
Berharap anaknya mempunyai pengetahuan dan pemahaman ilmu
agama yang mendalam, Saifuddin kecil mulai diajar mengaji cara kampung dengan
Kong Perin yang kemudian dilanjutkan oleh putranya, Ust. Haji Sayuti, yang juga
sepupu dari ibunya. Di rumah, ia juga diajarkan mengaji oleh ayahnya sendiri.
Setelah itu ia belajar kepada Ust. Yusuf Amin.
Pelajaran mengajinya, khususnya al-Qur`an, kemudian berlanjut
ketika ia duduk di bangku Sekolah Dasar. Baginya, masa-masa di Sekolah Dasar
merupakan hal yang paling mengesankan dalam belajar al-Qur`an karena paling
banyak memberikan pengaruh terhadap kemampuan membaca al-Qur`annya dibawah
bimbingan Ustadz Malik.
Masa Kecil dan Kesenangan Membaca
Yang istimewa dari Saifuddin kecil adalah kemampuannya dalam
membaca huruf latin sebelum masuk Sekolah Dasar. Guru membacanya adalah ayahnya
sendiri yang hampir setiap malam dengan tekun mengajarinya. Sebagaimana
kesukaan anak-anak lain yang sudah pandai membaca, ketika kecil ia juga sangat
senang membaca komik dan majalah anak-anak yang beredar saat itu.
Kesenangannya membaca didukung oleh kondisi keluarga dan
lingkungan sekitarnya. Ayahnya senang membaca buku, majalah dan bacaan-bacaan
lain. Orang-orang di lingkungan tempat tinggalnya juga tidak asing dengan buku,
terutama buku-buku terbitan Balai Pustaka. Hal ini tidak terlepas dari peran,
Riyadi seorang pemuda di kampungnya yang pernah belajar di Rusia dan kemudian
menjadi seorang insinyur. Pemuda ini adalah motor penggerak di kampungnya.
Mulai dari anak-anak kecil sampai para pemudanya didik oleh Riyadi yang kelak
rata-rata menjadi sarjana yang mumpuni. Untuk lebih menggairahkan anak-anak
agar rajin membaca, Riyadi mendirikan perpustakaan di kampungnya dan juga studi
klub yang bermarkas di rumahnya.
Dengan kondisi keluarga dan lingkungan sekitarnya, tidak
heran apabila pada kelas 2 Sekolah Dasar Saifuddin kecil telah membaca Si Jamin
dan Si Johan, sebuah roman karya saduran dari Merari Siregar. Selain itu, ia
juga membaca komik-komik karangan Kho
Ping Ho dan komik-komik karya SH. Mintarja selain buku-buku karangan Dr. Karl
May yang dibaca habis. Bukan saja komik yang dibacanya, tetapi juga buku-buku
yang terbilang serius untuk anak seusianya pun telah dikonsumsinya, seperti
Riwayat Hidup Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar.
Masa Sekolah di Asy-Syafi`iyyah
Masa pendidikan Sekolah Dasar dilaluinya dengan mulus.
Kemudian, Saifuddin kecil yang meranjak remaja melanjutkan pendidikannya di
Tsanawiyah Asy-Syafi`iyyah, Bali Matraman, Tebet, Jakarta Selatan. Pada masa
itu, merupakan suatu prestasi besar bisa masuk Tsanawiyah asy-Syafi`iyyah
karena standarnya yang cukup tingi sehingga sulit untuk bisa diterima. Bahkan
tidak jarang ada siswa yang berasal dari tsanawiyah lain ketika pindah ke
Tsanawiyah Asy-Syafi`iyyah harus turun kembali ke ibtidaiyyah. Modal utama yang
dimiliki beliau ketika itu adalah hafalan Kitab Al-Jurumiyyah, Kitab Matan
Bina` wal Asas, dan Rub`ul `Ibadat dari
Kitab Matan Al-Ghayah wat Taqrib.
Setelah masuk di Tsanawiyyah Asy-Syafi`iyyah ini, banyak guru
yang kagum dengan kemampuannya dalam membaca dan memahami kitab-kitab sehingga
ia pun mendapat prestasi dengan langsung naik kelas dua tingkat, dari kelas
satu langsung naik ke kelas tiga, tidak melalui kelas dua dahulu. Ia juga
sering menjadi ”penyelamat” bagi seisi
kelas, yaitu menyelematkan teman-temannya dari kemarahan KH. Abdullah Syafi`i
yang sering sekali marah besar jika murid-muridnya tidak mampu membaca kitab
dengan benar. Marahnya akan mereda apabila ada murid lain yang dapat
menetralisir dengan membacanya dengan benar.
Selepas tsanawiyah, Saifuddin remaja melanjutkan ke aliyah di
perguruan yang sama, Asy-Syafi`iyyah. Ada peristiwa yang jarang terjadi ketika
di aliyah ini yang menunjukan kapasitas keilmuan Saifuddin remaja ketika itu:
Seorang guru memintanya membawa pulang kitab Kifayatul Akhyar milik guru
tersebut. Maksudnya, agar ia membacanya di rumah dan ketika pelajarannya nanti
ia yang membacanya sedangkan si guru hanya mendengarkannya. Bukan hanya kitab
Kifayatul Akhyar, tetapi juga kitab-kitab lainnya, seperti Kitab Syarah Alfiyah
Ibnu Aqil. Ia sangat bersyukur dapat sekolah di Asy-Syafi`iyyah karena di
tempat inilah pengetahuan dan kemampuan bahasa Arabnya bertambah dan menjadi
matang. Hal ini berkat jasa guru-gurunya yang diantaranya berasal dari Pesantren
Gontor dan dari Mesir.
Mengaji Kitab-Kitab Lanjutan Kepada Guru-Guru Besar
Pada akhir tahun 1976, KH. Abdullah Syafi`i menyelenggarakan
pengajian yang ditujukan kepada para ulama dan asatidzah. Guru yang diminta
untuk mengajar mereka adalah Prof. Ibrahim Hosen dan mualim KH. M. Syafi`i
Hadzami. Kitab yang dibaca oleh mualim KH. M. Syafi`i Hadzami adalah kitab
Fathul Mu`in bab mu`ammalah dan Kitab Jauharul Maknun.
Pemuda Saifuddin yang baru lulus dari Aliyah Asy-Syafi`iyyah dan baru menjadi guru sehingga dipanggil ustadz juga diundang untuk mengikuti pengajian tersebut. Ini merupakan kali pertama bagi ustadz Saifuddin Amsir untuk mengikuti pengajian salah seorang guru utamanya ini.
Sayangnya, pengajian itu tidak berlangsung lama.
Pemuda Saifuddin yang baru lulus dari Aliyah Asy-Syafi`iyyah dan baru menjadi guru sehingga dipanggil ustadz juga diundang untuk mengikuti pengajian tersebut. Ini merupakan kali pertama bagi ustadz Saifuddin Amsir untuk mengikuti pengajian salah seorang guru utamanya ini.
Sayangnya, pengajian itu tidak berlangsung lama.
Selanjutnya, ustadz Saifuddin Amsir bergabung dengan
pengajian mualim KH. Syafi`i Hadzami yang diadakan di daerah Rawa Bunga (dulu
disebut Rawa Bangke), Jakarta Timur. Ia, ketika mengikuti pengajian di mualim
dan di guru-guru lainnya, telah memiliki bekal yang sangat memadai dan
mempunyai potensi yang sangat memungkinkan dirinya terlibat di dalam
masalah-masalah yang dibicarakan. Ia juga sudah mampu mempertanyakan
masalah-masalah yang urgen. Kitab yang dibaca pada pengajian mu`allim tersebut
adalah Kitab Bughyatul Mustarsyidin. Ketika ia baru bergabung, bacaan kitab itu
masih di bagian-bagian awal. Jadi, tidak terlalu banyak yang ketinggalan.
Sedangkan kitab lain yang dibaca di tempat itu yang diikutinya sejak awal
adalah kitab al-Hikam. Selain di Rawa Bunga, ia juga mengikuti pengajian mualim KH.
M. Syafi`i Hadzami di daerah Kepu, Jakarta Pusat di sebuah masjid.
Ulama, Dosen, Enterpreneur, Penulis, dan Apa Saja
KH. Saifuddin Amsir merupakan sedikit dari ulama yan memiliki
banyak profesi dan keahlian. Status keulamaannya semakit kuat setelah Mu`allim
KH. M. Syafi`i Hadzami wafat, ia diminta oleh keluarga untuk menggantikan
posisi almarhum untuk meneruskan pengajaran di majelis taklim-majelis taklim
yang semasa hidup diisi oleh almarhum.
Tugas menggantikan ini bukan hal yang baru dia dapatkan.
Waktu Mu`allim KH. M Syafi`i Hadzami masih hidup, dia juga menggantikan posisi
mu`allim di beberapa majelis taklim, seperti majelis taklim Kitab Al-Hikam di
masjid Al-Fudhola, Kampung Beting, Jakarta Utara.
Selain sebagai ulama,
ia juga adalah dosen, ia mengajar di IAIN (sekarang UIN) Syarif
Hidayatullah, Jakarta sebagai dosen filsafat sampai sekarang. Bukan hanya di
IAIN saja, ia juga mengajar di beberapa kampus, seperti Universitas Paramadina.
Ia juga aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU).
Dikarenakan kapasitasnya sebagai ulama, ia selalu menempati posisi di tingkat
Syuriyah PBNU sebagai salah seorang rais dan terakhir sebagai Mustasyar PBNU.
Profesi lainnya yang dia emban adalah menjadi Pengawas
Syari`ah di Bank Pemata. Selain itu, ia juga sosok enterpreneur mendirikan
lembaga keuangan mikro syari`ah atau Baitul Maal wat-Tamwil (BMT) dan lembaga
pendidikan Islam setara S2 dalam wadah yang bernama Ma`had Aly Zawiyah Jakarta.
Ia juga seorang penulis. Bukunya yang sudah terbit
diantaranya adalah Al-`Asyirah Al-Qur`aniyyah dan Al-Qur`an `Ijaazan wa
Khawaashan wa Falsafatan. Ia juga kontributor dan pengasuh rubrik di Majalah
Alkisah, ia juga menyukai seni musik. Jadi ia apa saja, itulah keistimewaan
yang Allah SWT berikan kepadanya. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal
ibadahnya. Aamiin.
Sumber : NU Online
Master Falak Jepara
Sumber : NU Online
Master Falak Jepara



