Kajian Falak

Pengertian Ilmu Falak
Secara sederhana ilmu falak adalah ilmu yang mempelajari tentang tata lintas pergerakan benda-benda langit, khususnya bumi, bulan dan matahari dalam garis edarnya masing-masing untuk dipelajari fenomenanya dalam rangka kepentingan manusia. Khusus dalam Islam, ilmu ini berguna untuk menentukan waktu-waktu ibadah.
Ilmu falak merupakan cabang ilmu pengetahuan yang sudah tua, sebab ilmu ini ada sejak jagat raya ini terbentuk. Kata ‘falak’ atau ‘aflâk’ dalam bahasa Arab bermakna orbit atau edar benda-benda angkasa.[1]Ibnu Khaldun (w. 808 H) menyebut ilmu ini dengan “hai’ah” yaitu ilmu yang menjelaskan tentang pergerakan bintang-bintang (planet-planet) yang diam maupun yang bergerak, serta menjelaskan tentang gumpalan-gumpalan awan yang bertaburan.
Gambar terkait


Sejarah Ilmu Falak
Dalam peradaban Islam, ilmu falak pada mulanya tidak lebih hanya sebagai kegiatan pengamatan alam untuk kepentingan pertanian, perdagangan, penentuan ritual keagamaan, dan kepentingan lainnya. Namun tak jarang pula digunakan untuk kegiatan peramalan (nujûm, astrologi). Orang-orang dahulu percaya bahwa alam ini berada di bawah kekuasaan tersembunyi dari benda-benda angkasa di cakrawala (matahari, bulan, planet-planet dan benda angkasa lainnya). Mereka percaya bahwa kehidupan dan ketenangan hidup manusia berada di bawah kendali peredaran benda-benda angkasa tersebut. Pemahaman ini didapat secara turun-temurun dari peradaban (bangsa-bangsa) kuno sebelumnya. Bangsa Arab primitif (jâhilî) misalnya sangat gemar mengamati dan mempelajari perbintangan (nujûm). Mereka memberi perhatian penuh pada gerakan angkasa terutama bintang-bintang, hingga mereka berani meramal kejadian-kejadian di masa datang tentang keberuntungan dan kesialan seseorang atau sekelompok orang, bahkan nasib seorang raja dan negara yang di dasarkan pada peredaran benda-benda langit tersebut.[3] Datangnya Rasulullah Saw bersama dengan turunnya al-Qur’an memberi cara pandang baru dalam kehidupan masyarakat ketika itu. Allah Swt dan Rasul-Nya menjelaskan bahwa bahagia dan celaka mutlak dalam kekuasaan Allah Swt.
Dalam perkembangan berikutnya, Islam banyak melahirkan sarjana-sarjana astronomi yang berpengaruh di dunia, antara lain Al-Buzjani (w. 388 H), Ibnu Yunus (w. 399 H), Ibn al-Haitsam (w. 430 H), Al-Biruni (w. 440 H), Abu Ali al-Hasan al-Marrakusyi (w. ± 680 H), Ibn al-Majdi (w. 850 H), dan tokoh-tokoh lainnya. Adalah Dinasti Abbasiah, tepatnya masa pemerintahan Jakfar al-Mansur, yang berjasa meletakkan ilmu falak pada posisi istimewa setelah ilmu tauhid, fikih, dan kedokteran. Ketika itu ilmu falak tidak hanya dipelajari dan dipandang dalam perspektif keperluan praktis ibadah saja, namun lebih dikembangkan sebagai pondasi dasar terhadap perkembangan ilmu-ilmu lain, seperti ilmu pelayaran, pertanian, kemiliteran, dan lain-lain. Tidak tanggung-tanggung, khalifah Al-Mansur membelanjakan dana negara yang besar dalam rangka mengembangkan kajian ilmu falak. Tak pelak, Ilmu falak berkembang dan mencapai kecemerlangannya pada peradaban Islam.
Gambar terkait


Matahari, Bulan & Penanggalan dalam al-Qur’an
Dalam Islam sistem penanggalan di dasarkan pada peredaran faktual bulan mengelilingi bumi pada porosnya, sementara penanggalan Masehi (Miladi) berdasarkan peredaran faktual bumi mengelilingi matahari. Bila diperhatikan, cukup banyak ayat-ayat al-Qur’an yang membicarakan peredaran benda-benda angkasa tersebut, antara lain:
[1.] QS. Al An’am [06] ayat 96:
Artinya: “Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang maha perkasa lagi maha mengetahui”. [QS. Al-An’am [06] : 96]
[2.] QS. Yunus [10] ayat 05:
Artinya: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak, Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui”. [QS. Yunus [10] : 05]
[3.] QS. Al Baqarah [2] ayat 189:
Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji, dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa, dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”. [QS. Al-Baqarah [02] : 189]
Ketiga ayat diatas secara zahir menyatakan bahwa perhitungan bilangan tahun dan perhitungan waktu-waktu lainnya adalah melalui pergerakan matahari dan bulan, dan QS. Al-Baqarah [02] ayat 189 diatas menegaskan perbedaan kalender Islam dengan kalender lainnya.
Di dalam al-Qur´an terdapat beberapa ayat yang menjelaskan tentang peredaran matahari dan bulan yang menandakan adanya rotasi-revolusi bumi dan matahari, antara lain:
[4.] QS. Ar Ra’du [13] ayat 02:
Artinya: “Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu”. [QS. Ar-Ra’d [13] : 02
[5.] QS. Ibrahim [14] ayat 33
Artinya: “Dan dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang”. [QS. Ibrahim [14] : 33]
[6.] QS. Ar-Rahman [55] ayat 05:
Artinya: “Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.” [QS. Ar Rahman [55]: 05]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kisah Perjuangan KH Saifuddin Amsir

Kita sungguh telah kehilangan sosok ulama Betawi terkemuka dengan semua kiprah dan karyanya yang sangat membekas dan bermanfaat b...